Genggam Bumi Tapi Jangan Rusak Masa
Depannya
Letihnya
tubuh, teriknya matahari membuatku berkeluh kesah kala itu. Cuaca panas di
hari-hari ini memang membuat tubuh semakin terasa lelah. Teringat kembali
tempat kita dilahirkan, tumbuh dan beristirahat di hari tua nanti. Ya, bumi.
Yang
Maha Kuasa telah memberikan kepercayaan-Nya kepada kita, manusia untuk menjaga
dan melestarikan bumi ini. Ini berarti bumi ini juga milik kita, tapi apa yang
sebenarnya telah kita perbuat? Dimanakah rasa tanggung jawab kita sebagai yang
dipercaya oleh-Nya?
“Earth Focus for The Future”, inilah yang
menjadi tema dari pameran fotografi dan esai tahun ini di Universitas Bunda
Mulia. “Makna dari tema ini lebih kepada fokus untuk melestarikan bumi untuk
kehidupan masa depan yang lebih baik”, tutur Hana selaku panitia acara.
Sesuai
dengan tema, para peserta diminta untuk mengambil gambar dan menuliskan esai
yang berkaitan dengan keadaan bumi kita akhir-akhir ini. Dengan segenap hati,
mereka memberikan hasil yang terbaik.
Adalah
Simon, salah satu mahasiswa yang ikut serta dalam pameran. “Saya mau ikut serta
agar saya bisa mengkritisi bagaimana bumi sekarang ini dan supaya punya
kesadaran untuk merawat bumi”, ungkapnya dengan penuh semangat.
“Our World is Our Future”, tema yang tersirat di benak Simon untuk mencurahkan isi hatinya melalui esai yang ditulisnya. Ia memilih tema itu karena menurutnya bumi adalah satu-satunya harapan bagi kehidupan manusia di masa depan.
Timbul
kegelisahan yang membuatnya memiliki harapan yang besar. Lubuk hatinya berharap
agar manusia bisa sungguh-sungguh merawat bumi. Meski begitu, gundah gulana di
hatinya setidaknya sedikit terobati.
Hiruk-pikuk
pengunjung menyelimuti pameran di siang hari. Mereka terus berdatangan dengan
antusiasnya. Mereka baru menyadari inilah sesungguhnya keadaan bumi kita
sekarang. Ya, terpampang jelas gambaran bumi di pameran itu. Menyedihkan, banyak
kerusakan akibat ulah manusia.
“Pameran ini banyak artikel mengenai kerusakan bumi yang diakibatkan oleh ulah kita sendiri, manusia harusnya melestarikan. Datang ke sini seperti mendapat ilmu lagi”, ujar Asri, salah satu mahasiswi yang kerap kali ke sana kemari saat mendatangi pameran.
Seperti
Simon, Asri juga punya harapan besar dari acara ini. Agar semoga lebih banyak
masyarakat, terutama pemuda dan pemudi mau ikut ambil bagian dalam memperbaiki
bumi. Tuturnya bahwa kita harus memulai dari sesuatu yang kecil untuk membawa
perubahan yang besar.
Karena
kita berpijak di sini, kita hidup di sini, di bumi ini. Bumilah satu-satunya
harapan kita. Tanpa kita, bumi akan baik-baik saja. Tetapi tanpa bumi, kita
tidak mungkin akan baik-baik saja. Tak ada lagi tempat untuk menampung manusia
selain bumi kita ini.
Melalui
acara ini, kita kembali diingatkan untuk menjamah dengan merawat bumi tempat
kita hidup. Di kehidupan yang akan datang, bumi harus lebih baik dari saat ini.
Karena bumi ini milik kita, jadi genggamlah tapi jangan rusak masa depannya.





jembatan dari paragraf pembuka menuju paragraf isi masih kasar sehingga terasa meloncat dari satu topik ke topik yang lain
ReplyDeletekalau saya masih belum dapet feelnya, tapi secara garis besar tulisan sudah baik, ditingkatkan lagi ya ester, semangat!!!!!!
ReplyDeletedalam satu paragraf masih terlalu sedikit, selain itu cerita dari satu paragraf ke paragraf lain sedit kurang kesinambungan sehingga membuat orang sedikit tidak mengerti.
ReplyDeleteHubungan antar paragrafnya masih terkesan dipaksakan dan meloncat-loncat antara 1 topik dengan topik yang lainnya.
ReplyDeleteDari paragraf pembuka ke paragraf isi topiknya terkesan kurang nyambung, seperti 2 cerita yang berbeda.Dan kalimat tiap paragraf terlalu singkat.
ReplyDeleteHubungan antar paragraf kurang smooth, overall sudah cukup informatif :)
ReplyDelete